Lintaswaktu.News – Lebak – Penanganan persoalan ketersediaan air di RSUD Malingping mendapat sorotan dari aktivis Lebak Selatan. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan kurangnya langkah antisipasi terhadap kebutuhan air yang merupakan salah satu fasilitas dasar dan penting dalam pelayanan rumah sakit.
Aktivis Lebak Selatan, Agus Rusmana, menyayangkan apabila langkah penanganan baru dilakukan setelah persoalan tersebut ramai menjadi perhatian publik.
“Seharusnya rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Banten memiliki langkah antisipasi dan sistem mitigasi yang jelas terhadap persoalan ketersediaan air. Jangan sampai setelah ramai dan menjadi sorotan publik, baru kemudian ada tindakan untuk menstabilkan ketersediaan air,” ujar Agus, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, ketersediaan air di rumah sakit tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa. Air merupakan kebutuhan mendasar yang menunjang berbagai aktivitas pelayanan, termasuk kebersihan, sanitasi, serta kebutuhan pasien dan tenaga kesehatan.
Agus menilai manajemen rumah sakit perlu memastikan adanya perencanaan dan langkah kontingensi apabila terjadi gangguan pasokan air. Dengan demikian, pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu ketika terjadi kondisi darurat, jangan menyalahkan alam.
“Yang menjadi perhatian kami bukan hanya bagaimana persoalan ini diselesaikan saat sudah terjadi, tetapi bagaimana rumah sakit melakukan pencegahan agar persoalan serupa tidak berulang. Rumah sakit harus punya kesiapan menghadapi kondisi darurat,” katanya.
Ia juga meminta pihak terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyediaan dan cadangan air di RSUD Malingping. Evaluasi tersebut penting untuk memastikan kebutuhan air tetap terpenuhi dalam kondisi normal maupun ketika terjadi gangguan.
“Jangan menunggu viral atau ramai dulu baru bergerak. Pelayanan publik, terlebih pelayanan kesehatan, harus mengedepankan kesiapsiagaan dan antisipasi,” tegas Agus.
(Oji DN)






















